Ribuan Pria Bersorban Mirip Kiyai Bantu Polisi Halau Massa Rusuh, Siapa Mereka?

Ribuan Pria Bersorban Mirip Kiyai Bantu Polisi Halau Massa Rusuh, Siapa Mereka?

Tampak ribuan pria bersorban mengenakan pakaian mirip kiyai ada di Jakarta. Keberadaan ribuan pria tersebut menjadi perbincangan ramai di masyarakat. Terlebih wajah mereka terlihat masih muda, usianya diperkirakan rata-rata 30-45 tahun.

Mereka mengenakan sorban, gamis, dan pakaian serba putih. Penampilan mereka terlihat seperti kiyai. Mereka juga ikut turun ke jalan membantu aparat kepolisian menghalau massa yang membuat kericuhan di sejumlah titik di Jakarta.

Penampilan para pasukan bersorban ini menjadi pertanyaan bagi para warganet karena, sebagian dari mereka mengenakan penutup wajah. Selain itu, ada pula yang mengenakan kacamata dan menggunakan sepeda motor trail, seperti sepeda motor pasukan brimob.

Saat turun ke jalan, pasukan bersorban ini menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sambil mengepalkan tangan. Suara mereka cukup keras, mirip pasukan TNI. Pasukan bersorban ini ikut membantu polisi menghalau perusuh di flyover Slipi, Jakarta Barat pada Rabu (22/5) pagi.

Ribuan Pria Bersorban Mirip Kiyai Bantu Polisi Halau Massa Rusuh, Siapa Mereka? (wartahub.com)
Ribuan Pria Bersorban Mirip Kiyai Bantu Polisi Halau Massa Rusuh, Siapa Mereka?

Sejumlah warganet menyebut pasukan bersorban ini adalah laskar FPI (Front Pembela Islam) yang membantu aparat. Tetapi, ada juga yang beranggapan bahwa pasukan bersorban itu adalah polisi yang mengenakan pakaian seperti kiyai.

Saat demo di Kantor Bawaslu beberapa waktu lalu, pasukan bersorban dari aparat kepolisian juga tampak berjaga-jaga di lokasi demo. Tetapi, seragam mereka mirip semua yaitu mengenakan peci dan sorban putih.

Sementara itu, Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi mengatakan para perusuh di flyover tersebut bukan dari santri atau laskar FPI (Front Pembela Islam).

“Ini massa dari luar daerah, bukan dari FPI. Kami bersama FPI, kami dibantu ulama,” ujar Hengki.

Dijelaskan Hengki, sebagian besar massa adalah pendatang dari daerah, seperti Tasikmalaya, Majalengka dan Banten. Massa datang ke Jakarta sejak pukul 02.00 WIB dini hari.

“Ternyata sebagian besar dari luar daerah. Apakah Tasik, apakah Majalengka, apakah Banten, banyak dari luar daerah yang tidak dikenal oleh masyarakat (Petamburan),” jelasnya.

Menurut Hengki, para perusuh dari luar daerah itu sempat bentrok dengan warga Petamburan. Warga marah karena properti mereka dirusak.

“Pagi ini kami bersama Habib Muchsin berusaha memisahkan massa dari luar ini yang mendiskreditkan warga Petamburan ini, kemudian kami juga akan memeriksa yang sudah diamankan,” pungkas Hengki.